RESIMEN INFANTRI 2-7

Resimen Infantri 2-7 didirikan tgl. 3 Oktober 1945 di Amsterdam dan dibentuk dari anggota-anggota Pasukan Interior di area Amsterdam dan Gooiestreek. Pada tgl. 16 Pebruari 1946 Resimen Infantri 2-7 menuju Inggris, dimana mereka mendapatkan peralatan yg diperlukan di Wokingham dan kemudian berlayar menuju Hindia Belanda Timur dengan “Boissevain” tgl. 25 Maret 1946. Karena admiral Lord Louis Mountbatten, komandan Asia Tenggara, telah mengangkat larangan bagi pasukan Belanda untuk mendarat di Jawa dan Sumatera, Resimen Infantri 2-7 selamat dari keharusan ke Malaka  tidak seperti kebanyakan batalion Belanda lainnya. Mereka tiba di Semarang tgl. 21 April 1946. Di Semarang mereka mengambil-alih posisi di sepanjang Timur Banjir Kanal dari Resimen Stoottroepen I. Selain itu, mereka diberikan tugas untuk mengamankan area pelabuhan. Juga menjadi kompeni cadangan. Itu tidak berlangsung lama, karena Resimen Infantri 2-7 dilibatkan untuk berpartisipasi dalam operasi yg berbeda-beda. Dalam melaksanakan salah satu tugas tersebut (operasi “Grotesk”) tgl. 31 Juli 1946, komandan batalion terluka berat.

 

Pada awal Aksi Polisi I tgl. 21 Juli 1946, Resimen Infantri 2-7 bergerak maju melalui area yg berat (karena hujan berat) ke Oengaran untuk mengamankan jalur kiri kanan bagi pasukan utama Tijger Brigade. Setelah perjalanan yg berat, Resimen Infantri 2-7 mencapai Oengaran pada sore hari. Beberapa hari kemudian Resimen Infantri 2-7 mengambil-alih Ambarawa dan sekitarnya dari Resimen Stoottroepen I. Pada tgl. 4 Agustus 1947, hari terakhir Aksi Polisi I, Resimen Infantri 2-7 mengambil-alih Bandoengan, Soemoewono dan Bandjoe Biroe.

 

Setelah Aksi Polisi I, Resimen Infantri 2-7 mendapat tugas berpatroli disekitar Ambarawa. Dan pada tgl. 15 Agustus 1947, Resimen Infantri 2-7 berpartisipasi dalam pembersihan I besar-besaran bersama dengan Resimen Stoottroepen I dan battalion dari Resimen Infantri 3-7 di sekitar Oengaran dan Soemoewona. Itu adalah operasi yg perlu dilakukan, dilihat dari kenyataan bahwa posisi di sekitar Bandoengan dan Soemoewono menjadi ajang tembak-tembakan tiap hari.

 

Pada akhir tahun 1947, Resimen Infantri 2-7 mengambil-alih posisi-posisi dari Resimen Stoottroepen I, ketika mereka pulang kembali ke Belanda. Pada tgl. 19 Juli 1948, Resimen Infantri 2-7 dibebas-tugaskan oleh Resimen Stoottroepen 5. Pada tgl. 23 Juli 1948, mereka meninggalkan Hindia Belanda Timur dan berlayar dengan “Johan van Oldebarneveldt” sebagai sukarelawan yg terakhir di unit Tijger Brigade yg kembali ke Belanda dan tiba disana tgl. 21 Agustus 1948.

 Kembali